Fenomena FOMO, Apa yang Bikin Konsumen Mudah Tergoda Membeli?
Aisyha Nabilla

Fenomena FOMO, Apa yang Bikin Konsumen Mudah Tergoda Membeli?

12 bulan yang lalu 4 MENIT MEMBACA

Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out semakin sering dirasakan masyarakat saat ini. Misalnya, rasa cemas muncul ketika Anda takut ketinggalan momen penting, seperti flash sale di tanggal kembar, tiket konser yang habis hanya dalam beberapa menit, hingga produk yang mendadak viral karena digunakan oleh idola populer.

Situasi-situasi tersebut biasanya membuat konsumen terdorong untuk mengambil keputusan cepat karena khawatir kehilangan kesempatan atau tertinggal tren. Inilah yang memperkuat fenomena FOMO di tengah khalayak. 

Apa Itu FOMO?

Rasa cemas akan ketertinggalan atau lebih dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO) telah lama diperkenalkan oleh Przybylski et al, (2013) yang menyatakan bahwa FOMO merupakan fenomena dalam dunia psikologi di mana orang–orang memiliki rasa cemas berlebihan dengan gejala seperti terobsesi pada hal–hal tertentu yang dilakukan oleh orang lain atau pada sesuatu yang sedang viral.  

Hal ini membuat apa pun yang dilakukan oleh orang lain tampak sangat menarik untuk ditiru, baik oleh mereka yang berada di sekitar maupun oleh pengguna media sosial.

Konsumen yang merasakan FOMO biasanya terdorong untuk membeli produk atau mengikuti tren yang sedang populer karena khawatir tertinggal dari lingkungannya.

Dengan demikian, FOMO berfungsi baik sebagai pendorong sosial maupun psikologis dalam pengambilan keputusan konsumen.

Tiga Prinsip Psikologi di Balik Fenomena FOMO

fenomena FOMO
Source: Freepik

Beberapa prinsip psikologi pemasaran turut memperkuat dampak FOMO, di antaranya:

1. Prinsip Scarcity

Prinsip ini mengedepankan kelangkaan, di mana penerapan marketing yang berpadu dengan psikologi yakni dengan penawaran terbatas. Hal ini sering terlihat pada flash sale tanggal kembar atau edisi terbatas yang membatasi jumlah produk, mendorong konsumen untuk membeli sebelum kehabisan.

2. Social Proof

Prinsip ini memengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian dengan bukti sosial, biasanya berupa ulasan konsumen, testimoni, jumlah pembeli, hingga angka followers.

Fenomena tiket konser yang ludes dalam hitungan menit atau produk yang viral karena dipakai idola adalah contoh nyata dari prinsip ini, di mana banyaknya orang yang membeli menjadi bukti sosial kuat yang memicu pembelian.

3. Loss Aversion

Prinsip ini menunjukkan bahwa orang lebih takut kehilangan dibandingkan senang mendapatkan. Notifikasi ‘Jangan sampai ketinggalan manfaat ini’ atau ‘Lihat berapa banyak orang yang sudah membeli!’ secara halus memicu FOMO konsumen.

Menurut penelitian oleh Suhartini (2023), perilaku konsumen secara signifikan terbukti memengaruhi keputusan pembelian. Penelitian yang sama juga menemukan bahwa FOMO berperan sebagai moderator antara perilaku konsumen dan keputusan pembelian. Ini berarti FOMO dapat memperkuat atau mengubah bagaimana perilaku konsumen memengaruhi keputusan pembelian. 

Baca juga: Tingkatkan Loyalitas Konsumen FMCG Melalui Riset Pasar

Bagaimana Merek dan Peneliti Pasar Memanfaatkan FOMO?

Beberapa implikasi yang dapat dioptimalkan oleh beberapa merek dan peneliti pasar adalah sebagai berikut.

1. Rancang Kampanye yang Memicu Urgensi secara Sehat

  • Gunakan elemen scarcity atau limited-time offer untuk menciptakan rasa eksklusif, misalnya flash sale singkat atau edisi terbatas.
  • Pastikan informasi waktu dan jumlah tersedia transparan, agar konsumen tidak merasa dimanipulasi.

2. Padukan Social Proof dan Storytelling

  • Tampilkan testimoni pelanggan, angka “banyak orang sudah membeli”, atau live counter penjualan.
  • Manfaatkan platform sosial (TikTok, Instagram Live) untuk menunjukkan antusiasme pembeli secara real-time.

3. Uji & Ukur Efek FOMO

  • Lakukan A/B testing pada pesan yang mengandung unsur urgensi.
  • Pantau metrik seperti conversion rate selama periode promosi dan perilaku repeat purchase untuk menilai dampak jangka panjang.

4. Perhatikan Etika dan Kesehatan Konsumen

  • Hindari taktik yang menimbulkan tekanan berlebihan atau misinformasi, misalnya “stok tinggal 1” padahal tidak akurat.
  • Sertakan kebijakan pengembalian yang jelas agar konsumen tetap merasa aman.

5. Peran Peneliti Pasar

  • Identifikasi segmen konsumen yang paling responsif terhadap FOMO, misalnya Gen Z atau pembeli impulsif.
  • Sediakan insight berbasis data untuk menyeimbangkan efektivitas kampanye dengan tanggung jawab sosial brand.

Dengan memahami mekanisme fenomena FOMO, merek, pemasar, dan peneliti pasar dapat merancang kampanye yang memicu antusiasme tanpa mengorbankan etika, menjaga keseimbangan antara efektivitas dan kepercayaan konsumen.

Referensi:

populix research service

Baca juga: Survei Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia 2025 Data Terbaru

Tags:
Artikel Terkait
Teknik Proyektif: Definisi, Pentingnya, Kelebihan, dan Kekurangan
Istilah proyektif sudah tidak asing didengar lagi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknik proyektif adalah yang berhubungan dengan sesuatu yang menunjukkan konstitusi psikodinamik individu. Adapun yang dimaksud dengan psikodinamik yaitu bidang psikologi tentang kekuatan atau proses mental atau emosional yang terutama berkembang pada anak usia dan pengaruhnya terhadap kondisi perilaku dan mental. Lantas, apa […]
Biaya Pendidikan S2: Ini Tips Menghitung dan Merencanakannya
Melanjutkan studi ke jenjang magister merupakan keputusan besar yang perlu dipertimbangkan secara matang, terutama dari segi keuangan. Salah satu hal yang harus direncanakan yaitu biaya pendidikan S2 yang bisa bervariasi tergantung universitas, jurusan, hingga lokasi studi. Tak bisa dimungkiri, biaya untuk menempuh pendidikan pascasarjana di Indonesia, baik di universitas negeri maupun swasta, cenderung cukup tinggi […]
7 Mitos tentang Skripsi, Bisa Bikin Mahasiswa Stres!
Banyaknya mitos yang beredar tentang skripsi dapat berpengaruh terhadap kondisi mahasiswa. Tak menutup kemungkinan jika mitos tentang skripsi berpeluang membuat mahasiswa stres, bahkan sebelum mereka mulai menyusun skripsi. Selain itu, segala mitos tentang skripsi yang beredar pun ternyata berpeluang memicu tindakan curang yang mungkin saja dilakukan mahasiswa. Dari hasil survei Populix, beragam kecurangan yang paling […]